Thursday, October 27, 2005

Bercerita tentang saya

Semalam saya berbicara dengan sesorang bernama Dennis. Berusia hampir sama dengan saya. Selain memiliki kesamaan umur juga memiliki kesamaan nasib, kita sama-sama menikah dan mempunyai anak. Beda nya saya mempunya seorang anak perempuan, dan dia mempunyai dua orang anak perempuan dan laki. Anak saya bernama Bianglala Aisha Rahmannina, berumur hampir satu setangah tahun sekarang. Tapi kelihatan seperti lebih tua dari umurnya kalau dilihat dari tingkah lakunya. I am proud of her. Mungkin gara-gara dia anak sematawayang kita, kita bangga for what ever she does...hehehe. Sesuatu yang normal bukan?
Namun, sejujurnya bisa dikatakan bahwa saya tidak mengurus anak tersebut. Bahkan bisa dikatakan bahwa anak itu besar dan tumbuh hanya dengan satu orang tua saja, yaitu ibunya. Maka tak heran jika seandainya dia tidak begitu akrab dengan saya. Namun I'm trying to get into her world.
Ibunya seorang yang penuh semangat, cerdas dan perhatian. Tak heran jika bianglala tumbuh seperti itu. Ibunya sering membacakan cerita ketika bianglala mau tidur, ngajak bernyanyi dan bahkan sekarang ini, dia sudah tidak mau disuapin, dia ingin makan sendiri seperti orang dewasa. Bahkan dia sendiri tidak mau lagi dipanggil bayi, dan dia menyebut dirinya sendiri adalah KAKAK atau TETEH !!! dan seandinya kalau melihat anak kecil yang kelihatannya umurnya lebih muda dari dia, dengan lantang dia nunjuk sambil teriak..."Ada Bayi..."
Banyak hal-hal yang selalu terbayang, seakan-akan ada di depan mata mengenai anak itu, dan juga ibunya.
Walaupun saya tidak begitu banyak mengisi dunia mereka, itulah tragisnya dalam hidup saya ini.
Sejujurnya, hidup berumah tangga jauh...jauh lebih baik dari pada bujangan, menurut
saya. Saya tidak bisa menerangkan kenapa hal itu bisa terjadi. Namun itulah yang saya rasakan. Walupun it takes "Cost" a lot. Maksudnya cost itu bukan masalah uang, tapi banyak hal. Bayangkan saja, kamu harus berbagi dengan dua orang yang lain. Tapi bagi saya, itu bukan apa-apa. Bahkan bisa menjadi sesuatu yang membangkitkan spirit.
Mereka bukan sebuah beban, tapi mereka bagian dari tubuh saya. Tapi sialnya, saya
sendiri terkadang tidak bisa mengerti bagian tubuh tersebut.
Oh... terkadang saya merasa di hukum kalau seandainya anak saya tidak mau saya gendong, atau saya dan istri saya berkonflik. Mungkin ini gara-gara saya terlalu lama meninggalkan mereka, ini lah hukumannya. Sampai saya menangis.

-tobe continued-

Comments: Post a Comment



<< Home

Sponsor Utama (nyang punya Tanah!)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?