Monday, October 24, 2005

Ayam Broiller

Beberapa waktu yang lalu, saya bersama istri saya pegi ke sebuah rerstoran siap saji. Kita memesan ayam goreng yang standard, maksudnya yang biasa dijual ditempat-tempat seperti itu. Namun, ada yang tidak terbiasa yaitu pikiran saya yang begitu usil. Ayam yang saat itu saya makan, mungkin usianya berkisar antara 30 - 40 harian dari mulai menetas kira-kira kurang dari sebulan setengah umur ayam tersebut. Jika dibandingkan dengan ayam yang dipelihara oleh orang tua saya dikampung, ukuran anak ayam yang berusia sekitar 1.5 bulan tidak sebesar ayam yang sedang saya makan saat itu. Mungkin masih sebesar kepalan tangan Elias Pickal yang sekarang sedang meringkuk dalam penjara. Untuk memperoleh berat yang sama dengan ayam yang sedang saya makan ini, mungkin orang tua saya harus menunggu sampai satu atau bahkan lebih. Memang hebat manusia, bisa mempersingkat waktu panen !!
Manusia telah menciptakan "alat" mempercepat pertumbuhan, yang memang diperlukan sekarang. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai macam hormon dan obat diproduksi. Hmmm, namun mungkin sampai sekarang, belum ada penelitian tentang perkembangan mental ayam-ayam tersebut.
Jika seandainya suatu waktu aplikasi tersebut dilakukan pada manusia, mungkin pada umur 3 - 4 tahun manusia akan seperti orang dewasa. Dan seandainya hormon dan pakan tersebut hanya merangsang pertumbuhan secara pisik saja, maka jangan lah heran seandainya suatu ketika kita akan melihat manusia brewokan masih ngempeng dan menangis layaknya anak-anak prasekolah.....

Tentang Kloning

Aplikasi kloning masih diperdebatkan untuk diterapkan pada manusia. Baik ditinjau dari sisi etika ataupun agama ataupun yang lain nya.
Namun, seandainya kloning ini memang dilegalkan (tanpa ada suatu golongan yang
protes), mungkin soeharto akan bisa menebus kesalahan-kesalahannya.
Semisal, sekarang ini Soeharto sudah bisa dikatakan dalam ambang hidupnya, dan semisal dia divonis seumur hidup, maka lamanya dia dipenjara hanya bisa dihitung saja. Tapi seandainya dia dikloningkan, maka soeharto yang tua bangka sekarang ini mati, masih ada soeharto yang lainnya (hasil kloningan), yang siap menanggung vonis.
Yang jadi pertanyaan sekarang adalah apakah roh yang bersemayam dalam diri soeharto hasil kloning tadi itu adalah sama dengan roh yang bersemayam pada soeharto yang tua bangka?
Kalau seandainya sama, maka ketika soeharto tua mati, dia enggak akan masuk neraka dong, soalnya dia kan masih ada di raga yang satunya lagi. Dia mempunyai kesempatan untuk tobat dan seandainya tobatnya diterima oleh Tuhan, maka dia akan masuk sorga dengan harta yang sudah dia korupsi.
Kalau seandainya rohnya itu berbeda, maka kasihan betul dong seumur hidup menanggung hinaan dari masyarakat dan masuk penjara akibat pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan. Sedangkan tatanan dalam masyarakat kita tidak pernah mengukur atau menghukum roh seseorang, tapi pada jasad seseorang. Sebagai identifikasi jasad adalah photo, cap jempol (sidik jari) dst. Sedangkan si kloning tadi adalah identik dengan soeharto yang tua bangka, baik dari segi wajah, sidik jari etc. Dengan alasan seperti itulah, maka saya menyatakan tidak setuju dengan pengaplikasian kloning pada manusia. Soalnya menimbulkan kebingungan yang baru.

Comments: Post a Comment



<< Home

Sponsor Utama (nyang punya Tanah!)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?