Monday, October 17, 2005

Cerita Seorang Kawan Lama

Sunhaji adalah namanya. Dia salah satu orang yang pertama-tama saya kenal di tempat kerja. Kami pernah bersama dalam kapasitas dia sebagai mentor saya dan saya sendiri sebagai trainee-nya. Umurnya pada saat itu (saya kira sudah mencapai atau lebih dari) empat puluh tahunnan dan sekarang mungkin orang bisa mengatakan bahwa Dia dalam umur paruh baya atau middle age hehehehe....
Ada perilaku yang tidak saya mengerti dari dia, dan pada saat itu saya bersikap apa yang dia lakukan adalah salah. Setiap dia menelpon atau ditelpon, saya perhatikan bahwa dia sama sekali tidak ada masalah. Mengalir begitu saja, senyum dan sangat penuh perhatian yang sangat tulus. Bahkan ketika dengan sengaja saya bertandang ke rumahnya, orang mungkin tidak akan mengira. Pada saat itu, saya berfikir inilah tempat yang ideal. Pernah saya beranikan untuk bertanya, apakah dia punya masalah dengan seseorang, dia menjawab tidak pernah dan dia bilang, apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang normal dan tidak dibuat-buat, semuanya tulus, sedangkan apa yang saya lihat pada waktu itu adalah cerita yang lain dan saya akan mengerti bila semuanya ada dalam kehidupan saya. Dia tidak menjelaskan secara gambalng. Namun, tetap saya tidak membenarkan, walaupun saya sendiri tidak mengerti saat itu.
Namun, setelah bertahun-tahun lama saya tidak berjumpa dan bahkan tidak pernah behubungan dengan dia, tiba-tiba dengan begitu saja terbayang akan kawan yang satu ini. Apakabarmu cak Sun ?
Apakah kamu seperti yang dulu? mungkin masih hahahahaha
Cak sun, mungkin pada saat itu saya tidak mengerti apa yang kamu katakan, dan kadang-kadang kita berargumen dan tidak pernah mencapai titik temu yang memuaskan. Namun, sekarang saya baru melihat dan mengerti apa yang coba kamu katakan dulu. Sayangnya pada saat itu, Cak Sun, tidak menjelaskan untuk aspek-aspek yang sangat pribadi. Mungkin hanya untuk menghargai pendapat saya atau dengan kata suci-nya (seperti yang sering kamu bilang) adalah tidak mau mengotori pikiran bocah ingusan yang belum tahu tentang hidup.
Ya, benar !! Umumnya kita tidak tahu sebuah makna kalau kita tidak pernah menghadapinya sendiri. Untuk lebih simplenya adalah kita tidak akan pernah mengerti kalau kita sendiri tidak pernah meluangkan waktu untuk memikirnya.
Mungkin, cak Sun akan mentertawakan saya. Namun apa daya, pengertian yang dulu tidak pernah saya bisa terima, baru sekarang saya bisa melihat. Dan mungkin saya bisa membenarkan seandainya saya sendiri melakukannya. Namun entah kenapa terkadang ketika baru akan memulai, sering kali terjadi flash back-flash back yang senantiasa membuat saya berhenti. Mungkin suatu saat nanti, ketika Hujan turun dengan derasnya melebihi daya tampung sungai yang semakin hari-semakin penuh dengan sampah !!!
How pitty life is !!


-Earth-

Comments: Post a Comment



<< Home

Sponsor Utama (nyang punya Tanah!)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?