Thursday, October 13, 2005
Dimana ?
Sebuah pertanyaan yang memiliki banyak jawaban, namun jelas pertanyaan itu menunjukan jawaban tentang suatu tempat, entah itu berupa tempat yang benar2 nyata dan dapat dlihat atau sebuah imaji yang diasosiasikan dengan sebuah tempat.
..................
Pada saat itu rangga sedang tidur-tiduran di kamarnya yang berukuran 3 x 4 meter persegi. Sambil menghisap sebatang rokok, dia berfikir tentang sesuatu yang "hilang" atau entahlah. Namun dia mempertanyakan sesuatu dan mulai frustasi.
"Kemaren malam saya katakan pada Aji, bahwa saya akan memulai pekerjaan itu, namun entah kenapa saya tidak bisa mengerjakannya. Banyak sekali godaan-godaan yang selalu membisik-bisik. Hmmm.. saya tidak seperti ini dulu... Apakah saya berubah karena kemalasan saya atau karena keadaan? atau memang saya ini seorang pemalas yang memang baru ketahuan sekarang? Ah saya kira tidak... saya bukan seorang pemalas, mungkin saya berubah karena keadaan. Tapi apakah saya ini bersalah seandainya saya berubah? Saya yakin tidak salah.. setiap orang punya hak untuk berubah... bahkan seekor ulat saja dijamin haknya untuk berubah menjadi kupu-kupu.. .. perubahan adalah sebuah kekuatan yang tidak bisa tertahankan. Namun, apakah peruhbahan ini baik atau tidak, hmmm mungkin saya harus berhenti dulu berfikir..."
Disulutnya rokok yang baru, dan menghisap dalam-dalam. Hembusan asap tembakau keluar dari dua lubang hidung rangga bagai air terjun yang terjatuh tanpa halangan.
"Oh... kalau saya berubah dan membuat diri saya seorang munafik, tentunya itu bukan suatu pertanda yang baik.... ah apa kata teman-teman ku nanti.. terutama Aji, yang selalu mempercayaiku menangani pekerjaan itu. Ini sudah kesekian kalinya Aji memintaku untuk mengerjakan proyek yang benar-benar penting bagi dia..
kemaren dulu, Saya punya alasan untuk mengerjakannya terlambat walaupun itu hanya bohong belaka..
Apakah saya harus berbohong lagi? Hmmm rupanya sudah menjadi kebiasaan saya untuk berbohong. Mungkin saya berbohong pada Aji sekarang, dan besok? Ah tidak, saya tidak berbohong... saya hanya beralasan, dan lagi pula hanya bohong kecil kok. Toh Aji tidak tahu bahwa saya berbohong, dan lagi pula inikan tidak merugikan dia... walaupun proyeknya terlambat."
Tiba-tiba bunyi HP terdengar....
"Halo... rangga disini"
"Eh.. Ngga, ini Aji... gimana kerjaannya, Apa kamu menemukan kesusahan? ini Aji."
"Eh... nddak... nyante aja, berjalan lancar... kamu nddak usah khawatir. Namun mungkin agak telat.. Saya ada urusan yang lain, yang lebih penting..."
"Oh.. nggak apa-apa, saya takut kamu mendapat kesusahan... maaf ya udah memakai waktu kamu untuk prioyek yang ini...."
"Ah.. gak apa-apa..... "
Pembicaraan pun terhenti..
"Hmmm lagi-lagi saya berbohong... kenapa saya tidak bisa mengatakan bahwa saya belum mengerjakannya?
Ahh sudah lah.. dia tidak tahu juga kok...."
.............
Di tempat lain, Aji sedang berharap-harap dan penuh keyakinan bahwa proyek yang dikerjakan rangga sedang dalam progress. Sedangkan atasannya sudah memberi Aji surat peringatan yang terakhir karena keterlambatan proyek2 yang terdahulu.
-Earth-
..................
Pada saat itu rangga sedang tidur-tiduran di kamarnya yang berukuran 3 x 4 meter persegi. Sambil menghisap sebatang rokok, dia berfikir tentang sesuatu yang "hilang" atau entahlah. Namun dia mempertanyakan sesuatu dan mulai frustasi.
"Kemaren malam saya katakan pada Aji, bahwa saya akan memulai pekerjaan itu, namun entah kenapa saya tidak bisa mengerjakannya. Banyak sekali godaan-godaan yang selalu membisik-bisik. Hmmm.. saya tidak seperti ini dulu... Apakah saya berubah karena kemalasan saya atau karena keadaan? atau memang saya ini seorang pemalas yang memang baru ketahuan sekarang? Ah saya kira tidak... saya bukan seorang pemalas, mungkin saya berubah karena keadaan. Tapi apakah saya ini bersalah seandainya saya berubah? Saya yakin tidak salah.. setiap orang punya hak untuk berubah... bahkan seekor ulat saja dijamin haknya untuk berubah menjadi kupu-kupu.. .. perubahan adalah sebuah kekuatan yang tidak bisa tertahankan. Namun, apakah peruhbahan ini baik atau tidak, hmmm mungkin saya harus berhenti dulu berfikir..."
Disulutnya rokok yang baru, dan menghisap dalam-dalam. Hembusan asap tembakau keluar dari dua lubang hidung rangga bagai air terjun yang terjatuh tanpa halangan.
"Oh... kalau saya berubah dan membuat diri saya seorang munafik, tentunya itu bukan suatu pertanda yang baik.... ah apa kata teman-teman ku nanti.. terutama Aji, yang selalu mempercayaiku menangani pekerjaan itu. Ini sudah kesekian kalinya Aji memintaku untuk mengerjakan proyek yang benar-benar penting bagi dia..
kemaren dulu, Saya punya alasan untuk mengerjakannya terlambat walaupun itu hanya bohong belaka..
Apakah saya harus berbohong lagi? Hmmm rupanya sudah menjadi kebiasaan saya untuk berbohong. Mungkin saya berbohong pada Aji sekarang, dan besok? Ah tidak, saya tidak berbohong... saya hanya beralasan, dan lagi pula hanya bohong kecil kok. Toh Aji tidak tahu bahwa saya berbohong, dan lagi pula inikan tidak merugikan dia... walaupun proyeknya terlambat."
Tiba-tiba bunyi HP terdengar....
"Halo... rangga disini"
"Eh.. Ngga, ini Aji... gimana kerjaannya, Apa kamu menemukan kesusahan? ini Aji."
"Eh... nddak... nyante aja, berjalan lancar... kamu nddak usah khawatir. Namun mungkin agak telat.. Saya ada urusan yang lain, yang lebih penting..."
"Oh.. nggak apa-apa, saya takut kamu mendapat kesusahan... maaf ya udah memakai waktu kamu untuk prioyek yang ini...."
"Ah.. gak apa-apa..... "
Pembicaraan pun terhenti..
"Hmmm lagi-lagi saya berbohong... kenapa saya tidak bisa mengatakan bahwa saya belum mengerjakannya?
Ahh sudah lah.. dia tidak tahu juga kok...."
.............
Di tempat lain, Aji sedang berharap-harap dan penuh keyakinan bahwa proyek yang dikerjakan rangga sedang dalam progress. Sedangkan atasannya sudah memberi Aji surat peringatan yang terakhir karena keterlambatan proyek2 yang terdahulu.
-Earth-