Thursday, March 03, 2005

Tidak Penting

"Romo, ingin sebetulnya saya berterus terang. Namun berterus terang tentang apa, saya tidak tahu. Sepertinya semuanya sudah jelas, dan saya sendiri sudah menyetujuinya mau tidak mau. Mungkin orang mengira saya ini bersabar atau mengalah atau lebih halusnya lagi penuh pengertian. Namun bukan itu Romo, bukan mengenai 'penuh pengertian'. Saya sendiri tidak tahu, cuman rasanya saya seperti mencari sebatang jarum yang sudah menghitam di antara tumpukkan jerami Romo. "
"Kamu mencari jarum dalam tumpukan jerami itu untuk apa? apa kemeja kamu rusak sehingga kamu mesti menjahit sendiri?"
"Bukan Romo, bukan untuk menjahit ?"
"Trus untuk apa jarum itu kalau bukan untuk menjahit?"
Saya terdiam.
"Hmmm... anak ku, kamu mencari jarum dalam tumpukan jerami.... Menurut Romo kamu bodoh. Apa kamu tidak punya uang untuk membeli yang baru?"
Saya terdiam.
"Romo kira kamu mestinya punya uang untuk membeli jarum nak."
"Saya ada Romo."
"Lah lantas? Apa Kamu mau Romo yang belikan?"
"Tidak Romo, saya tidak berani menyuruh."
"Hmmm... trus?"
"Bukan masalah jarumnya Romo, mungkin saya tidak memerlukan jarum baru, tapi ini seperti yang saya utarakan bahwa saya sendiri tidak tahu apa. Cuman seakan-akan seperti itu lah saya Romo. Saya seperti berada di tumpukan jerami yang semakin saya korek, saya pilah-pilah, saya pindah-pindahkan... semakin susah untuk mencari jarum yang terjatuh. Mungkin pada saat itu cuman jarum yang terjatuh Romo, tapi seandainya yang lain seperti paku atau uang recehan dompet.... itupun saya tidak tahu terjatuh atau tidak."
"Lah... kalau kamu takut barangmu hilang, jangan kamu pergi ketempat jerami itu...."
"Tapi Romo, Tempat saya tinggal itu.....terbuat dari jerami. Memang tidak semua bagian terbuat jerami... tapi ada jerami yang menumpuk di bagian belakang."
"Romo tiddak mengerti kedatangan kamu kesini untuk mengaku dosa atau mau bercerita dan minta pendapat Romo?"
"Saya tidak tahu Romo... mungkin saya inggin bercerita."
"Hmmm baik kalau begitu..."
Saya terdiam.
"Trus selanjutnya bagaimana cerita kamu?"
"Tidak tahu Romo....."
"Loh kok kamu tidak tahu, katanya tadi kamu mau bercerita....."
"Hmmm......"
"Hmmmmmm........ (Sambil mengusap-ngusap kepala)."
"Maaf Romo, sudah mengganggu waktu Romo... saya mohon diri."
"Kamu mau kemana mat?"
"Mau mohon diri Romo...."
"Sudah selesei ceritanya?"
"Ndak.. tidak jadi Romo..... kasihan dibelakang saya sudah ada orang.... selamat malam Romo?"
"Selamat malam Mat.... Hati-hati di jalan."
"Iya Romo..."
Saya pun bangkit dan pergi keluar dengan hening. Sayup-sayup terdengar dari belakang....
"Selamat malam Romo.."
"Selamat malam Tom, Kabar kamu baik? Ada apa kamu datang kemari?"
"Puji Tuhan Romo, Saya harap Romo juga demikian... Saya kesini sebetulnya tidak ada maksud apa-apa Romo."
"Puji Tuhan.... Bagai mana usaha kamu Tom? apa semua lancar?"
"Lancar Romo, oh iya Romo saya mau mengundang Romo untuk makan malam besok di rumah saya."
"Oh, dalam rangka apa? Apa ada pesta?"
"Tidak Romo, cuman makan malam biasa... Kebetulan anak saya yang pertama baru naik kelas."
"Oh josua naik kelas. Kelas berapa sekarang?"
"Kelas dua SD Romo..."
Percakapan itu pun tak terdengar lagi, saya masih terus berjalan.
"Mungkin bagi Romo, percakapan itu lebih menarik dibandingkan keluh kesah saya."
*******
"Mestinya saya tidak bercerita pada Romo. Saya tidak menemukan jalan keluarnya. Sungguh, saya tidak mengerti mengapa Romo bersikap demikian. Padahal Romo sendiri yang mengatakan, pada khotbah-khotbahnya di gereja, untuk supaya datang kepadanya. Dia sendiri sering mengatakan bahwa dia itu bagikan gembala, yang bisa menuntun umatnya, yang senantiasa mendengar keluh kesah umat di paroki ini. Dan dia sendiri mengatakan berkali-kali dalam khotbah minggu pagi, ingin mendengarkan keluh kesah para jemaat, agar dia bisa berbuat sesuatu atas nama paroki. Hmmm... mungkin bukan saat yang tepat, tadi memang ada orang mengantri untuk berbicara sama Romo."
Saya pun tertidur dalam tumpukan jerami.... beserta jarum dan barang lain yang tercecer, entah itu apa.
Mungkin kamu dan Romo tidak akan tahu dan masa bodoh. Si Amat sudah Maklum dan menganggap sudah biasa.
Malam semakin sepi.
-Earth-

Comments: Post a Comment



<< Home

Sponsor Utama (nyang punya Tanah!)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?