Thursday, January 20, 2005
Orang-orang yang dikelola
Teringat lagi perdebatan atau bisa dikatakan diskusi yang pernah terjadi di milis lfm-itb beberapa waktu yang lalu. Pada awalnya adalah tentang berbagai pandangan masalah pendidikan dasar. Dan saya pun berkomentar. Namun yang menarik bagi saya sekarang adalah bukan tema pendidikan itu sendiri, namun ada suatu hal yang secara tidak sengaja terkemukakan oleh teman saya.
Awalnya saya mengatakan (kurang lebih spt ini) bahwa sekarang ini pendidikan dasar dari anak adalah berdasarkan sebuah ketidakpercayaan dan apriori orang tua (munkin juga ketakutan dan sekaligus ketidak becusan orang tua mendidik anak!!! atau mungkin ketololan orang tua sekarang tentang mendidik anak !!!) terhadap masa depan anak-anaknya. Kenapa sayakatakan demikian, karena sejak awal yang ada dibenak orang tua sudah tertanam bahwa sekolah dasar reguler tidak baik, mereka mengajarkan spt ini, itu dll. Dan yang parahnya lagi, banyak orang tua yang mereka-reka sendiri tentang pendidikan dasar yang ideal. Pada akhirnya, bermunculan lah sekolah alternatif yang syarat dengan biaya. Padahal yang diajarkan ya sama-sama saja. Tambah embel-embel sosialisasi dengan lingkungan, alam dan tentunya teman sekelas. Maka, berbondong-bondonglah orang tua mendaftarkan anak-anaknya sekolah ditempat-tempat tersebut, dan nyamanlah hatinya karena anaknya mendapatkan pendidikan yang ideal menurutnya. Dan lama kelamaan, mungkin hal ini menjadi gaya hidup yang akan selalu menuntut. Dan mereka akhirnya akan menganggap suatu kewajaran mengeluarkan uang untuk hal-hal yang absurd sebelumnya (Untuk hal yang absurd akan saya jelaskan dalam tema yang lain).
Kemudian seorang kawan berkata,"Nah untung yang berfikiran seperti elu (menunjuk pada saya) cuman sedikit. Soalnya yang kita perlukan adalah orang-orang yang elu sebutkan itu sehingga bisa kita kelola!"
Nah ini maksud saya yang menarik. Sekarang banyak sekali menjamur seperti program pelangsingan tubuh, yoga, sekolah alternatif, parental schooling, sekolah bayi yang jelas-jelas bullshit dan lain-lainnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? karena itu tadi, masih banyak dan mungkin terlalu nayak orang yang bisa dikelola... seperti halnya pelacur yang bisa dikelola.
Yang saya herankan kenapa mereka tidak pernah berfikir tentang kebijaksanaan dimasa lampau. Apakah Habibie itu produk dari sekolah alam? atau apakah keharmonisan keluarga datang dari suatu yoga ? atau mungkin Afandi dan para pelukis lainnya itu lulusan sekolah bayi ?Wah kalau begitu, mungkin sekolah yoga dan sekolah alam sudah ada sejak jaman tikotok dilebuan dan sudah menjangkau kepedesaan sejak jaman nyonya meneer masih gadis.
Mengkursuskan anak untuk belajar komputer, atau bahasa inggris atau bahasa asing bagi saya itu sudatu kewajaran, sewajar kita mengkursuskan anak ke sekolah bela diri. Tapi mengirim anak ingusan ke sekolah alternatif dengan alasan bahwa itu yang terbaik ditambah apriori dengan sekolah reguler apalagi dengan mengatakan untuk belajar bersosialisasi.... saya bisa menganggap bahwa orang tua spt sudah tidak sanggup mendidik anaknya dengan tangan sendiri.
Bisa dibayangkan, kita mengirim anak-anak sekolah ke sekolah alternatif yang sangat jauh, dengan waktu sekolah yang luar biasa lamanya dengan alasan supaya bersosialisasi pula. Dan kita lupa, bahwa masih ada anak tetangga yang mesti kita kenalkan. Mungkin tidak akan pernah, habis anak tetangga sekolah di sekolah SD biasa !!!
Dan bagi saya, biarkan saja orang-orang itu tetap dikelola. Bukankah Setiap orang dewasa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Sedangkan pelacur saja dengan sukarela menjadi pelacur, kalu tidak suka rela ya ngapain jadi pelacur !! (Bohong besar kalau seandainya jadi pelacur itu terpaksa !!! Kalau terpaksa mungkin sekali dua kali... tapi kalau sudah jadi profesi apanya yang terpaksa ?).
Hal-hal yang konvensional belum tentu meninggalkan kejelekan. Bukankankah kita ini hasil dari masa lalu ? Tergantung kita mau berpendapat seperti apa.
-Earth-