Saturday, January 08, 2005
Dibawah ini adalah adalah berita yang isinya tidaka jauh berbeda dengan perkiraan saya dulu. Bahwa banyak sekali orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari tragedy masyarakat Aceh. Sengaja saya taro di dalam blog saya ini.... dan itu sebabnya saya tidak banyak komentar tentang Aceh.... bahkan untuk memebertikan simpati pun saya sudah tidak sanggup...
Setelah membaca di berita bahwa salah sattu partai yang sok "membela wong cilik" mengirimkan bantuan ke aceh (kalau tidak salah saya baca berita itu hari ke tiga pasca musibah) saya sudah berprasangka... alangkah kejam (bagi saya) mengais-ngais rezeki di atas mayat yang tak terurus.... Saya tidak menghujat orang yang secara suka rela datang ke Aceh untuk membantu. Semoga saya dan keluarga saya tidak sampai memakan rezeki dengan cara seperti itu.
Bahwa sebuah bencana bisa menjadi sebuah kesempatan politis, agaknyatelah sejak awal kekhawatiran itu sudah banyak disampaikan oleh paraelit sendiri. Dalam rangkaian perjalanan ke Aceh ini, Tim Relawan ITAir Putih menjumpai sendiri kenyataan tersebut.Kita merasakan sejak awal hal ini. Banyak pengiriman relawanditumpangi oleh kepentingan politis. Demikian juga motif 2 operasionalmereka di lokasi bencana. Semua seperti berlomba mendapatkan creditpoint dengan tingkah egosentrisme yang keterlaluan, bahkan cenderungmemalukan dan bikin muak.
Banyak pihak memanfaatkan situasi ini untuk tujuan yang kurangtulus, memperoleh simpati dan kepahlawanan. Sesuatu yang absurd dalamkondisi darurat dan kritis semacam ini. Sebab pahlawan yangsesungguhnya adalah para korban dan survivor, bukan relawan ataupetugas dan pejabat publik.Menjadi relawan adalah panggilan kewajiban kemanusiaan, bukan sebuahsikap untuk tujuan lain. Para petugas dan pejabat publik, bahaknpolitisi, mereka harus melakukan ini karena itulah tugasnya. Mereka digaji oleh negara, uang rakyat dan menjalankan kewajiban politis dari jabatan yang harus dipertanggungjawabkan pada publik. Sekali lagi, itujuga bukan bagian dari sikap kepahlawanan.Sehingga ketika mereka ini memposisikan diri sebagai elit yang harusdapat prioritas dan karenanya membuat misi-misi yang lebih tulusterpaksa minggir atau dijadwal ulang bahkan batal berangkat, maka ituadalah suatu pengkhianatan terhadap saudara-saudara kita yang sedangmenderita.
Tim Air Putih mengalami dan melihat kenyataan ini dengansangat sedih.Di Bandara Halim, tumpukkan bantuan seperti tidak ada yangmemperhatikan ataupun mengurusnya. Baik di terminal maupun dalam arearunaway lanud. Sejumlah pesawat TNI justru sibuk memfasilitasi pejabatdan rombongannya serta para relawan elit yang tidak jelas apaurusannya ke Aceh. Bahkan menjadi suatu acara selebritis ketika mediaelektronik meliputnya dengan skenario ekspos dan dramatisasi.Melupakan etika jurnalistik terdistorsi pesanan politis.Di sisi lain, puluhan dan ratusan relawan dari segenap penjurunegeri, nampak terlantar menunggu giliran pemberangkatan yang tidakpasti. Bahkan dengan semena-mena di-cancel, diusir bahkan dimarahioleh petigas-petugas yang sok kuasa. Apa mereka itu sudah tidakmemiliki nurani lagi dan memandang dirinya jauh lebih mulia dari pararelawan yang menyediakan jiwa raga serta harta bendanya itu ?
Mereka mengulurkan tangan dengan tulus sementara para petugas itu hanya menjalankan tugas yang itupun tidak dilakukannya dengan becus.Kondisi di daerah pun sama, dari Yogya, Malang dan daerah2 lainmasuk kabar bahwa mereka tidak mendapatkan jadwal keberangkatan yangpasti baik itu melalui jalur komersial maupaun pemerintah/militer.Padahal, konsentrasi bantuan dan relawan menumpuk dimana2. Semua butuhsegera ke Aceh dan tak ada satupun lini birokrasi yang mampumemberikan solusi. Akhirnya mereka harus berangkat dengan berbagaicara, persis supporter sepak bola yang hendak "ngelurug", menontonkesebelasan pujaanya bertanding.Sesungguhnya para petugas dan pejabat itu, mereka jauh hina, karenadalam situasi genting semacam ini tak melakukan apa-apa sementaramereka punya kekuasaan yang memungkinkan mereka menyediakan resourcedan manfaat yang besar bagi semua pihak demi pertolongan pada Acehyang sedang menangis darah.
Setiap detik di Aceh harus harus dibayardengan nyawa ! dan sangat sedikit birokrasi di negeri ini yang memiliki kesadaran intelektual semacam ini.Justru armada asing (Australia, AS) dengan tegas mempriorotaskanangkutan bantuan dan relawan. Tanpa seleksi dan diskriminasi politisbahkan dengan sikap pelayanan bak maskapai internasional kelas utama !Tim Air Putih merasakan sendiri, bagaimana sebuah tim militerAustralia dapat bersikap sangat ramah dan perhatian walaupunterkendala bahasa dan budaya. Jauh lebih ramah dari layananpenerbangan kelas utama negeri ini. Sebelum dan selama perjalananmerekea sangat melayani, bahkan urusan toilet dalam pesawat Herculespun mereka perhatikan dan memeberi notice pada setiap relawan yangmenumpang.Ketika lewat sepanjang garis pantai barat Aceh, mereka memberikesempatan para relawan untuk melakukan observasi medan dari udara.Terbang dalam jarak dekat dengan ketinggian rendah yang kita tahu itusangat beresiko dan mereka lakukan ! Sehingga mereka menunjukkankualitas mental sesungguhnya sebagai Tim yang bekerja untuk tugaskemanusiaan.
Saya dan sejumlah rekan relawan Air Putih maupun PMI yang ada disitu, sesungguhnya merasa malu, karena bangsa kita sendiriternyata tidak memiliki kesadaran dan mental persaudaraan dalamkemanusiaan semacam itu.Di Bandara Aceh, kondisi serupa kita alami lagi. Di satu sisi,sejumlah besar petugas asing, helikopter US Navy dan alat-alat angkutbarang nampak bekerja tanpa henti tanpa banyak ba bi bu, bahkan merekaseperti robot yang sudah tahu persis apa yang harus dilakuakn secaraefektif dan efisien. Tanpa banyak bicara !
Di sisi lain, sejumlah besar petugas dan pejabat kita justru nampaksibuk dan saling bersitegang hanya untuk mengurusi kunjungan parapejabat termasuk presiden SBY. Mereka bekerja keras hanya agar Bapaksenang. Sementara sejumlah besar bantuan untuk rakyatnya, tidak merekaurus. Bahkan justru sejumlah birokrasi rumit tetap dilakukan danmenjadi hambatan luar biasa.Penulis menjumpai banyak sekali Tim Relawan yang sudah menungguberjam-jam bahkan berhari-hari danharus bolak balik ke bandara hanyauntuk mendapatkan barang-barang mereka, termasuk distribusiobat-obatan yang sangat diperlukan. Sedang angkutan berat sangat sulitdidapatkan. Semua petugas yang seharusnya bertanggung jawab nampaklepas tangan.
Sejumlah Tim Relawan, nampak bekerja dengan inisiatif sendiri tanpa suatu koordinasi. Misalnya PMI gabungan dari berbagai daerah, bekerjakeras merawat pengungsi dengan kondisi mengenaskan dan serba seadanya.Tenda darurat mereka nampak sudah tak mampu lagi menampung, sementara tidak jauh dari lokasi itu, sejumlah tenda mentereng berdiri untuk supporting kunjungan pejabat dan kelompok relawan elit. Yang bahkan untuk melayani masyarakat pun mereka mendapat suati pengawalankhusus. Sungguh sebuah situasi paradoks.Tim PMI gabungan di bandara, mengaku, sejak mereka tiba (denganberbagai kesulitan yang sama), beberapa hari yang lalu, mereka belumsekalipun ke lokasi utama bencana (pusat kota Banda Aceh). Pertama,mereka tidak memiliki supporting tim di lokasi, kedua tak adatranportasi dan ketiga tak ada yang mengkoordinir penyaluran relawan.Mereka bekerja dengan inisiatif sendiri dan tidak tahu kemana haruspergi untuk mendapatkan perlatan medis dan obat-obatan, teronggokbegitu saja tak terurus.Mereka akhirnya memutuskan menugaskan diri sendiri di areal bandarakarena tak tersedia tim medis yang memadai di situ meskipun pengungsibanyak bertebaran di sekitar bandara. Termasuk orang2 terlantar yangingin keluar dari Aceh.Demikian juga sejumlah besar Tim Relawan yang baru tiba, merekanampak bingung, tak tahu harus kemana dan bagaimana. Transportasi taktersedia dan tidak ada satu pun petugas bandara maupun birokrasi yangmerasa bertanggung jawab melayani mereka.
Sekali lagi, mereka lebih concern pada kunjungan pejabat ataupun hanya mau melayani Tim Relawanelit yang disponsori oleh pejabat ataupun membawa misi2 politis. Jawaban yang sangat menyedihkan kami terima, semua transportasibahkan truk militer seluruhnya habis digunakan untuk evakuasi jenasah di sekitar lokasi di mana presiden SBY akan berkunjung. Bahkansejumlah besar mayat ini direlokasi ke tempat2 yang tidak terlihat,Jalan2 dibersihkan dengan effort yang sangat luar biasa. Mendadak,semua fasilitas tersedia, listrik, air, komunikasi dan sebagainya.Pendeknya semua barang langka yang sebelumnya seperti mustahil bisadiselenggrakan di Banda Aceh.
Pertanyaanya, apabila mereka mampu melakukan itu, mengapa baru saatini dilakukan ? Hanya karena pejabat berkunjung ? Dan mengapa upayadan juga fasilitas itu lantas dihentikan lagi ketika presiden sudahkembali ke Jakarta ? Padahal jenazah2 itu bagaimanapun tetap harussecepatnya dievakuasi.Padahal, rakyat membutuhkan itu semua justru setelah pejabat minggatdari bumi Aceh.Kami melihat dan mendengar cerita, bahwa posko-posko resmi di pusatkota kini dikuasai oleh tim relawan elit dengan pakaian seragammentereng dan juga mendpatakan fasilitas luar biasa. Ketika rakyatkesulitan air bersih, mereka justru bisa mandi dan berdandan. Mereka bisa makan di depan rakayt yang telah kelaparan selama seminggu penuh. Bahkan posko gubernuran, dari laporan Anjar dan Valens, sudah berubah menjadi studio infotainmen multinasional dengan fasilitas luar biasa lengkap dan relawan2 kosmetik yang bekerja untuk pepentingan politis,pencitraan, dramatisasi, kapitalisasi media, dan sebagainya.Sementara di seluruh penjuru lokasi bencana, relawan, para jurnalis,juga relawan asing sesungguhnya bekerja keras dengan kondisi yang samalusuhnya dengan korban yang mereka layani dan terus berjuangmendapatkan resource2 yang selalu diprioritaskan untuk kepentingan2yang tidak jelas. Resource yang dibutuhkan untuk rakyat Aceh ! Semalam, saya sempat merenung di posko dan menitikkan air mata,melihat kemalangan Aceh, sebuah negeri yang sangat indah denganrakyatnya yang demikian kuat dan tabah namun terjebak dalam kebusukkanpengelolaan bencana di sebuah negara yang sangat luar biasa brengsek. saya berdoa, semoga para korban dan relawan sejati mendapatkan kekuatan dan jalan untuk menuntaskan misi kemanusiaan ini.
Salahuddien
Disadur dari detik com, penulis salah seorang relawan yang sedangberada di Aceh saat ini untuk membantu memulihkan jaringan internet di sana.