Thursday, March 30, 2006
Atribute
Saya merasa tidak kurang apapun ketika saya harus memakai HP yang alakadarnya. Ataupun saya tidak merasa ketinggalan zaman ketika saya masih mendengarkan lagu lewat kaset, bukan lewat MP3 player (IPod) atau CD.
Dan tidak pernah terfikirkan bahwa saya ini adalah winner atau looser ketika saya mehadapi sebuah tantangan.
Saya tidak pernah merasa mempunyai keahlian apa-apa, namun aneh kebanyakkan "client" senang mempekerjakan saya, dan bahkan sering sekali mereka meminta saya bekerja untuk mereka. Terkadang saya harus menolak karena saya sendiri ingin punya keleluasaan.
Saya bukan seorang yang rajin, atau pun berpengetahuan luas tentang segala hal.
Sebetulnya saya adalah seorang yang enggan sekali membaca buku, apalagi membaca buku yang sok menggurui dan sering orang puja-puja si pengarangnya. Namun tidak munafik juga saya beberapa buku yang saya bisa katakan fanatik, bukan karena pengarangnya, namun ceritanya itupun setelah saya paksakan untuk membaca. Terkadang harus saya baca berulang kali agar saya mengerti dan faham betul.
Tak saya pungkiri, saya senang membaca sejarah masa lalu.
Saya bukan seniman atau pun mempunyai bakat seni, bahkan saya sendiri merasa tidak pernah ada niat untuk meniru seorang seniman terkenal, kayaknya menyebalkan kalau saya harus membandingkan diri saya dengan seniman terkenal hehehhe..
Dahulu saya senang menggambar atau melukis, itu karena hobi... bahkan pada saat itu saya tidak tahu nama-nama seniman terkenal dunia. Namun setelah saya sedikit tahu tentang mereka, ada keengganan dalam diri saya untuk menggambar atau melukis lagi. Dahulu, semasa masih kuliah saya senang sekali untuk menulis puisi, sehingga secara tidak sengaja Alm. Benny R Budiman membaca puisi-puisi saya yang saya tulis di Bugos dan tertarik. Beliau mengajak saya untuk membaca puisi bersama seniman-seniman yang cukup terkenal didaerah. Bahkan beliau memberikan buku puisi istrinya dan ditulisi pada halaman pertamanya "Untuk...AB semoga selalu gelisah" saya masih ingat itu. Saya datang sekali kesana, ketempat membaca puisi bersama seniman2 itu, namun setelah itu saya merasa tidak ingin menulis puisi lagi. Dan akhirnya saya putuskan untuk menekuni tanah liat bersama selama beberapa bulan, lumayan hasilnya banyak digemari cewek-cewek dan mudah-mudahan mereka masih menyimpannya, amin.
Saya tidak tertarik dengan diskusi tentang sesuatu yang serius apa lagi membicarakan
tentang negara, politik. Tahu kenapa? karena saya tidak mau mencari nafkah dengan menjual nama rakyat.
Saya senang memakai sepatu atau baju bermerek terkenal, namun yang di diskon minimal 40%, kalau tidak diskon ya sudah nggak usah beli. Dan saya tidak peduli dengan iklan produk yang mengatasnamakan sumbangan. Sebagai contoh, dengan membeli produk tertentu maka kita telah menyumbang sekian untuk anu. Kalau mau nyumbang mah, di lingkungan kita banyak yang harus disumbang !! tidak percaya? pergi aja ke pasar, tuh tukang angkut sampah... tuh tukang jarum eceran yang sudah tua... masih harus cari nafkah seumur gitu.. gak usah menghayal menyumbang negara afrika, atau menyumbang longsor di
profinsi lain... mending nyampe, kalau nggak? misalnya nyampe, seberapa sih yang disumbang kita buat mereka?
Kalau mau charity yang jangan dibawa-bawa dalam bisnis kata peter F gonta, saya setuju !! Dan itu permainan kotor kalau udah mengembel-embeli charity dalam iklan sebuah produk. Artinya, si produsen sudah tidak punya kreativitas lagi untuk meningkatkan penjualan. Dan sayangnya banyak korbannya. Saya juga tidak tertarik dengan sistem undian, apalagi harus ngirim SMS dengan harga premium. Kalau ingin duit mah, ya bekerja dong... keluarkan keringat, dan jangan lupa menabung!!! Kalau kata bapa saya mah "Jangan pengen untung tina enteng!!" dalam bahasa nasionalnya "Jangan pengen dapat untung dari sesuatu yang gampang".
Dan saya, tidak pernah mempunyai keinginan yang saya dapatkan seketika. Saya lebih senang memulai dengan sebuah rencana. Walaupun keinginan saya itu bisa saya dapatkan
seketika. Seandainya saya punya uang banyak, saya tidak pernah berfikir untuk menggunakan sesuka hati saya, walaupun uang itu saya dapatkan dari keringat sendiri. Mungkin orang mengatakan saya ini pelit, trus kenapa kalau saya pelit?
Tuhan tau kemana sebagian uang saya itu kok. Saking pelitnya, sampai-sampai ketika saya menulis sekarang, saya diskonek sambungan internetnya. Apa bukan orang bodoh tak berhingga kalau masih nyambung sedangkan saya masih sibuk ngetik. Ya untung banyak dong telkom hehehehehe...
Orang banyak belajar yoga atau pun meditasi, namun sesungguhnya mereka adalah korban bisnis guru yoga. Saya tidak pungkiri yoga dan meditasi adalah sebagai sarana alternatif untuk melarikan diri jika tidak mengerti hakikat dari yoga atau meditasi itu sendiri.
Mungkin ada benarnya juga pepatah kuno berkata bahwa tingkatan yang paling tinggi dari suatu hakikat adalah "kehampaan". Selama orang masih berfikir dan tergantung dengan pemenuhan materiaslistik yang tersistematis, maka saya anjurkan untuk melupakan diri kamu sejatinya. Jadilah diri kamu dengan segala atribut yang bikin kamu nyaman, pergilah ketempat-tempat yang mana perasaan kamu diterima atau dimanjakan atau dibuai.
Dan kiranya saya akan mengatakan bahwa I love my self more... here i am as the way i am (with or without the latest product)
-Earth-
Dan tidak pernah terfikirkan bahwa saya ini adalah winner atau looser ketika saya mehadapi sebuah tantangan.
Saya tidak pernah merasa mempunyai keahlian apa-apa, namun aneh kebanyakkan "client" senang mempekerjakan saya, dan bahkan sering sekali mereka meminta saya bekerja untuk mereka. Terkadang saya harus menolak karena saya sendiri ingin punya keleluasaan.
Saya bukan seorang yang rajin, atau pun berpengetahuan luas tentang segala hal.
Sebetulnya saya adalah seorang yang enggan sekali membaca buku, apalagi membaca buku yang sok menggurui dan sering orang puja-puja si pengarangnya. Namun tidak munafik juga saya beberapa buku yang saya bisa katakan fanatik, bukan karena pengarangnya, namun ceritanya itupun setelah saya paksakan untuk membaca. Terkadang harus saya baca berulang kali agar saya mengerti dan faham betul.
Tak saya pungkiri, saya senang membaca sejarah masa lalu.
Saya bukan seniman atau pun mempunyai bakat seni, bahkan saya sendiri merasa tidak pernah ada niat untuk meniru seorang seniman terkenal, kayaknya menyebalkan kalau saya harus membandingkan diri saya dengan seniman terkenal hehehhe..
Dahulu saya senang menggambar atau melukis, itu karena hobi... bahkan pada saat itu saya tidak tahu nama-nama seniman terkenal dunia. Namun setelah saya sedikit tahu tentang mereka, ada keengganan dalam diri saya untuk menggambar atau melukis lagi. Dahulu, semasa masih kuliah saya senang sekali untuk menulis puisi, sehingga secara tidak sengaja Alm. Benny R Budiman membaca puisi-puisi saya yang saya tulis di Bugos dan tertarik. Beliau mengajak saya untuk membaca puisi bersama seniman-seniman yang cukup terkenal didaerah. Bahkan beliau memberikan buku puisi istrinya dan ditulisi pada halaman pertamanya "Untuk...AB semoga selalu gelisah" saya masih ingat itu. Saya datang sekali kesana, ketempat membaca puisi bersama seniman2 itu, namun setelah itu saya merasa tidak ingin menulis puisi lagi. Dan akhirnya saya putuskan untuk menekuni tanah liat bersama selama beberapa bulan, lumayan hasilnya banyak digemari cewek-cewek dan mudah-mudahan mereka masih menyimpannya, amin.
Saya tidak tertarik dengan diskusi tentang sesuatu yang serius apa lagi membicarakan
tentang negara, politik. Tahu kenapa? karena saya tidak mau mencari nafkah dengan menjual nama rakyat.
Saya senang memakai sepatu atau baju bermerek terkenal, namun yang di diskon minimal 40%, kalau tidak diskon ya sudah nggak usah beli. Dan saya tidak peduli dengan iklan produk yang mengatasnamakan sumbangan. Sebagai contoh, dengan membeli produk tertentu maka kita telah menyumbang sekian untuk anu. Kalau mau nyumbang mah, di lingkungan kita banyak yang harus disumbang !! tidak percaya? pergi aja ke pasar, tuh tukang angkut sampah... tuh tukang jarum eceran yang sudah tua... masih harus cari nafkah seumur gitu.. gak usah menghayal menyumbang negara afrika, atau menyumbang longsor di
profinsi lain... mending nyampe, kalau nggak? misalnya nyampe, seberapa sih yang disumbang kita buat mereka?
Kalau mau charity yang jangan dibawa-bawa dalam bisnis kata peter F gonta, saya setuju !! Dan itu permainan kotor kalau udah mengembel-embeli charity dalam iklan sebuah produk. Artinya, si produsen sudah tidak punya kreativitas lagi untuk meningkatkan penjualan. Dan sayangnya banyak korbannya. Saya juga tidak tertarik dengan sistem undian, apalagi harus ngirim SMS dengan harga premium. Kalau ingin duit mah, ya bekerja dong... keluarkan keringat, dan jangan lupa menabung!!! Kalau kata bapa saya mah "Jangan pengen untung tina enteng!!" dalam bahasa nasionalnya "Jangan pengen dapat untung dari sesuatu yang gampang".
Dan saya, tidak pernah mempunyai keinginan yang saya dapatkan seketika. Saya lebih senang memulai dengan sebuah rencana. Walaupun keinginan saya itu bisa saya dapatkan
seketika. Seandainya saya punya uang banyak, saya tidak pernah berfikir untuk menggunakan sesuka hati saya, walaupun uang itu saya dapatkan dari keringat sendiri. Mungkin orang mengatakan saya ini pelit, trus kenapa kalau saya pelit?
Tuhan tau kemana sebagian uang saya itu kok. Saking pelitnya, sampai-sampai ketika saya menulis sekarang, saya diskonek sambungan internetnya. Apa bukan orang bodoh tak berhingga kalau masih nyambung sedangkan saya masih sibuk ngetik. Ya untung banyak dong telkom hehehehehe...
Orang banyak belajar yoga atau pun meditasi, namun sesungguhnya mereka adalah korban bisnis guru yoga. Saya tidak pungkiri yoga dan meditasi adalah sebagai sarana alternatif untuk melarikan diri jika tidak mengerti hakikat dari yoga atau meditasi itu sendiri.
Mungkin ada benarnya juga pepatah kuno berkata bahwa tingkatan yang paling tinggi dari suatu hakikat adalah "kehampaan". Selama orang masih berfikir dan tergantung dengan pemenuhan materiaslistik yang tersistematis, maka saya anjurkan untuk melupakan diri kamu sejatinya. Jadilah diri kamu dengan segala atribut yang bikin kamu nyaman, pergilah ketempat-tempat yang mana perasaan kamu diterima atau dimanjakan atau dibuai.
Dan kiranya saya akan mengatakan bahwa I love my self more... here i am as the way i am (with or without the latest product)
-Earth-